KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Serukan Kebangkitan Ulama Nusantara dan Persatuan Bangsa di Indramayu

Kiyai Imad menjadi perhatian masyarakat dalam sebuah acara pelantikan organisasi Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS) di Indramay
Warta Batavia - INDRAMAYU – Ceramah yang disampaikan oleh KH Imaduddin Utsman Al-Bantani atau yang akrab disapa Kiyai Imad menjadi perhatian masyarakat dalam sebuah acara pelantikan organisasi Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS) di Kabupaten Indramayu. Dalam tausiyahnya, Kiyai Imad membahas berbagai isu mulai dari kebangkitan ulama Nusantara, sejarah Islam di Indonesia, perjuangan para santri, hingga pentingnya menjaga persatuan bangsa dan hormat kepada orang tua.

KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Serukan Kebangkitan Ulama Nusantara dan Persatuan Bangsa di Indramayu

Ceramah yang berlangsung di Desa Pelumbon, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu tersebut dihadiri para kiai, tokoh masyarakat, pengurus PWILS, serta ratusan jamaah dari berbagai daerah.

Seruan Menjaga Martabat Ulama dan Bangsa Indonesia

Dalam pembukaan ceramahnya, Kiyai Imad menyampaikan doa dan apresiasi kepada para pengurus PWILS yang baru dilantik. Ia berharap organisasi tersebut mampu menjadi bagian penting dalam menjaga kehormatan ulama dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, perjuangan pada masa sekarang bukan lagi perang fisik seperti era kemerdekaan, melainkan perjuangan menjaga budaya, persatuan, dan martabat bangsa.

“Kita hidup di zaman perjuangan menjaga keharmonisan bangsa Indonesia, menjaga harkat dan martabat para kiai, menjaga budaya Nusantara, dan mempertahankan NKRI,” ujar Kiyai Imad di hadapan jamaah.

Ia juga menilai keberadaan organisasi keagamaan dan para santri memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat.

Bahas Sejarah Islam Nusantara dan Wali Songo

Salah satu tema utama dalam ceramah tersebut adalah pembahasan sejarah Islam di Nusantara. Kiyai Imad menyampaikan pandangannya bahwa perkembangan Islam di Indonesia telah berlangsung jauh sebelum kedatangan kelompok-kelompok tertentu dari Timur Tengah.

Ia menyebut catatan pengembara muslim terkenal seperti Ibnu Battuta sebagai salah satu rujukan sejarah mengenai keberadaan Islam di Nusantara sejak abad ke-7 Hijriah.

Menurutnya, kerajaan Islam telah berdiri di wilayah Aceh jauh sebelum era Kesultanan Demak, Kesultanan Banten, maupun Kesultanan Cirebon berkembang.

Kiyai Imad kemudian mengangkat peran besar para Wali Songo dalam menyebarkan Islam secara luas di Pulau Jawa. Ia menyebut sejumlah tokoh seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, hingga Syarif Hidayatullah sebagai figur penting dalam dakwah Islam Nusantara.

Menurutnya, dakwah para wali dilakukan dengan pendekatan budaya, pendidikan, dan akhlak sehingga Islam berkembang pesat di tengah masyarakat.

Singgung Polemik Nasab dan Identitas Keturunan Nabi

Dalam ceramahnya, Kiyai Imad juga menyinggung polemik mengenai nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad SAW yang belakangan menjadi perdebatan di sejumlah kalangan.

Ia menyampaikan pendapat bahwa kemuliaan seseorang tidak semata ditentukan oleh garis keturunan, tetapi lebih utama ditentukan oleh ilmu, akhlak, dan ketakwaan.

Kiyai Imad bahkan menekankan bahwa ulama yang mengabdi kepada masyarakat memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut bahwa ulama adalah pewaris para nabi.

“Yang menjadi pewaris para nabi adalah para ulama, bukan sekadar keturunan biologis,” katanya.

Pernyataan tersebut disambut antusias oleh jamaah yang hadir dalam pengajian.

Syekh Nawawi Banten Disebut Ulama Besar Nusantara

Dalam kesempatan itu, Kiyai Imad juga memuji sosok Syekh Nawawi al-Bantani sebagai salah satu ulama besar Nusantara yang sangat berpengaruh di dunia Islam.

Menurutnya, Syekh Nawawi menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki tradisi keilmuan Islam yang sangat kuat dan dihormati hingga ke Timur Tengah.

Ia menyebut ketokohan ulama Nusantara tidak boleh dipandang sebelah mata karena banyak memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Islam dan pendidikan pesantren.

“Para kiai kampung yang mengajarkan wudu, salat, dan ilmu agama kepada masyarakat juga merupakan pewaris perjuangan Rasulullah,” ujarnya.

Cerita Perjuangan Santri dan Kemerdekaan Indonesia

Selain membahas persoalan agama, Kiyai Imad turut mengulas sejarah perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia menyinggung peran para ulama dan pesantren dalam pertempuran melawan penjajah, khususnya pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945.

Nama KH Hasyim Asy'ari dan KH Abbas Buntet disebut sebagai tokoh penting dalam perjuangan rakyat melawan kolonialisme.

Menurutnya, para santri dan ulama memiliki kontribusi nyata dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui semangat jihad dan cinta tanah air.

Ia juga mengaitkan perjuangan tersebut dengan lahirnya organisasi-organisasi keagamaan dan kebangkitan santri di Indonesia.

Kebangkitan Santri Disebut Siklus 100 Tahunan

Kiyai Imad menyampaikan pandangannya mengenai adanya “siklus kebangkitan” umat Islam dan para santri setiap 100 tahun.

Kiyai Imad menyampaikan pandangannya mengenai adanya “siklus kebangkitan” umat Islam dan para santri setiap 100 tahun.


Ia menghubungkan sejumlah momentum sejarah seperti Perang Diponegoro, lahirnya Nahdlatul Ulama pada 1926, hingga munculnya gerakan PWILS sebagai bagian dari siklus kebangkitan tersebut.

Menurutnya, masyarakat Nusantara saat ini sedang memasuki era kebangkitan baru yang ditandai dengan meningkatnya kesadaran terhadap sejarah, budaya, dan peran ulama lokal.

“Kebangkitan para santri dan masyarakat Nusantara adalah bagian dari perjalanan sejarah panjang bangsa ini,” katanya.

Pernyataan tersebut mendapat sambutan meriah dari para jamaah yang memenuhi lokasi acara.

Tekankan Pentingnya Akhlak dan Hormat kepada Orang Tua

Menjelang akhir ceramah, Kiyai Imad memberikan pesan moral mengenai pentingnya akhlak dan penghormatan kepada orang tua.

Ia menyebut bakti kepada orang tua atau birrul walidain sebagai salah satu amalan paling penting dalam kehidupan seorang muslim.

Menurutnya, sikap hormat anak kepada orang tua akan berpengaruh pada kehidupan keluarga dan masa depan generasi berikutnya.

“Kalau seseorang hormat kepada orang tuanya, maka anak-anaknya kelak juga akan menghormatinya,” ujar Kiyai Imad.

Ia mengingatkan bahwa kewajiban berbakti kepada orang tua tidak berhenti meskipun seseorang telah dewasa atau memiliki keluarga sendiri.

Pesan tersebut menjadi penutup ceramah yang berlangsung penuh semangat dan sesekali diselingi humor khas pesantren.

Jamaah Antusias Ikuti Pengajian

Acara pengajian dan pelantikan PWILS di Indramayu berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari masyarakat. Jamaah tampak memenuhi area lokasi sejak sore hingga malam hari untuk mendengarkan tausiyah dari Kiyai Imad.

Selain dihadiri tokoh agama dan pengurus organisasi, kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi masyarakat dari berbagai daerah di Indramayu dan sekitarnya.

Dalam suasana penuh keakraban, para jamaah beberapa kali memberikan tepuk tangan dan seruan dukungan terhadap pesan-pesan persatuan bangsa yang disampaikan.

Ceramah Kiyai Imad sendiri dikenal memiliki gaya khas yang memadukan bahasa Indonesia, Jawa, dan humor pesantren sehingga mudah diterima masyarakat akar rumput.

Dakwah Islam Nusantara dan Persatuan Bangsa

Secara umum, isi ceramah Kiyai Imad menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Islam Nusantara yang damai, menghormati ulama, serta memperkuat persatuan bangsa Indonesia.

Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga ukhuwah, menghargai sejarah perjuangan ulama, serta tidak mudah terpecah oleh konflik identitas.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, Kiyai Imad menilai bahwa ulama, santri, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama menjaga keutuhan NKRI.

“Indonesia harus dijaga bersama dengan semangat persaudaraan dan perjuangan,” katanya menutup tausiyah.

Ceramah tersebut kini ramai diperbincangkan masyarakat dan beredar luas di media sosial, khususnya di kalangan jamaah pengajian dan komunitas pesantren di Jawa Barat serta berbagai daerah lain di Indonesia. (Qdrat Arispati)

Yuk, simak Ceramah KH Imaduddin Utsman Al-Bantani :



LihatTutupKomentar